Jumat, 27 Februari 2015

Analisis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck



Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Hamka
            Kisah berawal di Batipuh Sapulok koto ( padang panjang) dari pertengkaran pendekar Sutan dan Datuk Mantari Labih karena persoalan penggadaian setumpuk sawah. Kala itu datuk Mantari Labih meninggal dan Pendekar Sutan dibuang 15 tahun di Cilacap. Setelah masa hukuman dipotong 3 tahun seketika Sutan berada di mengkasar dan menikah dengan Habibah dan mendapat seorang anak yang bernama Zainuddin.
            Zainuddin dibesarkan oleh seorang pengasuh bernama Base. Dia dibesarkan di Makassar tanpa orang tua. Ketika usianya beranjak dewasa Zainuddin berlayar ke Padang panjang, tempat kelahiran ayahnya.
            Sesampainya di Padang Panjang, niat Zainuddin untuk mencari keluarga dari pihak ayahnya harus pupus. Ternyata Zainuddin masih dianggap orang lain,orang bugis Makassar.
            Di Batipuh Zainuddin bertemu dengan Hayati, gadis Minagkabau .  Perkenalan it uterus berlanjut sampai akhirnya mereka berdua saling mencintai. Namun sayangnya hubungan mereka terhalang adat. Pihak hayati tak menginginkan Zainuddin karena dia bukan orang sesuku dengan Hayati.
            Zainuddin diusir dari Batipuh dan pindah ke Padang Panjang, ketika ada kesempatan hendak bertemu, keduanya berjanji untuk sama-sama datang ke acara pacuan kuda. Tapi keinginan tersebut tak bisa dikabulkan karena Azis yang juga menaruh hati kepada Hayati lebih mendapat dukungan dari keluarga Hayati. Azis sendiri adalah kakan dari Khadijah, sahabat Hayati.
            Dengan uang peninggalan Mak Base, mak angkatnya, Zainuddin berniat meminang Hayati. Dia mengirim surat kepada engku datuk. Dia menyampaikan isi hatinya tapi dia tidak menerangkan bahwa dia sudah kaya. Tapi dengan pertimbangan adat istiadat, asal usul, suku serta harta, pinangan Zainuddin ditolak. Pinangan azislah yang diterima dan Azis pun menikah dengan Hayati.
            Untuk melupakan Hayati, Zainuddin berpindah ke Jakarta dan dia merintis karir sebagai seorang penulis. Untuk melebarkan sayapnya sebagai seorang penulis , Zainuddin pindah ke Surabaya.
            Di Surabaya, dia bertemu dengan Azis dan Hayati. Azis dan Hayati telah jatuh miskin dan mereka menumpang di rumah Zainuddin. Karena merasa malu, Azis meninggalkan rumah dan meninggalkan sepucuk surat. Dalam surat itu, Azis menceraikan hayati dan meminta Zainuddin untuk menikahi Hayati. Tapi Zainuddin tidak mau, dia masih memendam sakit hatinya.
            Hayati pun kecewa dan pulang ke Sumatra dengan kapal Van Der Wijck. Setelah Hayati pergi Zainuddin menyesal, dia pun segera menyusul ke Pelabuhan namun Hayati terlanjur berlayar. Esoknya, tersiar kabar bahwa kapal Van Der Wijck tenggelam.
            Di Rumah sakit Lamongan, Zainuddin kembali bertemu dengan hayati. Di pertemuan inilah Hayati menghembuskan nafas terakhirnya. Zainuddin sangat trepukul dan sakit-sakitan. Tak lama kemudian, zainuddin pun berpulang ke sisi-Nya.


















Analisis Latar
Latar sebagai landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan social tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
Dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka yang dengan tokoh utama Zainuddin, cerita terjadi di Batipuh, Padang Panjang, Makassar, Jakarta, dan Surabaya. Dalam novel ini pada tahap awal terdapat pengenalan, pelukisan, atau penunjukan latar. Selain latar tempat juga ditemukan latar waktu  misalnya dalam novel ini di cantumkan 20 oktober 1936 terjadi kecelakaan kapal Van Der Wijck, hal tersebut menunjukkan waktu.
Dalam novel Tenggelamnya Kapal van Der Wijck latarnya tidak terbatas pada penempatan lokasi-lokasi tertentu atau sesuatu yang bersifat fisik saja melainkan juga berwujud tata cara, adat istiadat, dan nilai-nilai yang berlaku di tempat yang bersangkutan (latar spiritual). Novel ini berlatar sosial-budaya yang dapat menginformasikan bagaimana budaya Padang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar